Sumber : Weddingku.com
Editor : Rani Yustita

Pernikahan merupakan suatu acara yang penuh dengan aura sakral dan hikmat, apalagi pada saat akad dilaksanakan. Dikarenakan di Indonesia mayoritas nya beragama Islam, akad nikah pun kebanyakan akan menurut pada tata-cara yang ada pada AlQuran dan Hadist shahih. Dalam Islam, ada beberapa hal yang harus dipenuhi oleh pengantin pria dan pengantin wanita, yang biasa disebut dengan Rukun Nikah dan Syarat Nikah :

Syarat Nikah

Syarat-syarat pernikahan adalah sekumpulan hal yang menjadi dasar sah atau tidaknya suatu pernikahan. Pernikahan yang dilakukan akan menjadi sah apabila calon pengantin pria dan wanita memenuhi semua syarat nikah. Syarat-syarat nikah yang harus dipenuhi oleh mempelai pria adalah :

  • Beragama Islam
  • Lelaki tertentu
  • Tidak memiliki hubungan mahram dengan calon istri
  • Mengetahui wali yang sebenarnya bagi akad nikah tersebut
  • Tidak dalam masa ihram haji atau umrah
  • Menikah dengan sukarela, dan bukan dengan paksaan
  • Tidak mempunyai empat orang isteri dalam satu masa
  • Mengetahui bahwa wanita yang akan dinikahi dapat menjadi istri yang sah

Sedangkan, syarat-syarat nikah yang harus dipenuhi oleh mempelai wanita/calon istri adalah sebagai berikut :

  • Beragama Islam
  • Perempuan tertentu
  • Tidak memiliki hubungan mahram dengan calon suami
  • Wanita tulen, bukan seorang khunsa (Orang yang tidak jelas jenis kelaminnya)
  • Tidak dalam masa ihram haji atau umrah
  • Tidak dalam masa idah
  • Bukan istri orang lain

Selain syarat-syarat mempelai, ada juga syarat-syarat wali nikah dan rukun nikah yang harus dipenuhi. Namun agar tidak melenceng jauh dari topik, kita akan membahas syarat wali dan rukun nikah dilain waktu. Nah, jika pengantin pria dan pengantin wanita sudah memenuhi syarat menikah mereka, maka yang harus dilakukan selanjutnya melakukan ijab qabul pernikahan.

Ijab Qabul Pernikahan

Ijab qabul adalah bacaan akad nikah yang merupakan salah satu rukun nikah yang paling menentukan apakah pernikahan yang dilakukan sah atau tidak. Secara bahasa, ijab kabul dipisahkan menjadi dua, ijab dan kabul. Dalam konteks pernikahan, ijab merupakan bacaan yang akan dilakukan oleh pihak wali mempelai perempuan, sedangkan kabul dilakukan oleh mempelai laki-laki atau wakilnya. Untuk masalah syarat ijab kabul pernikahan ini, ada beberapa pendapat ulama yang sedikit banyak bisa menjelaskannya :

  1. Ijab Kabul Harus Dalam Konteks Yang Sama
    Banyak ulama yang sepakat bahwa prosesi ijab qabul harus dilakukan dalam satu waktu atau majelis. Artinya, ijab dan qabul harus dilakukan pada konteks keadaan yang sama, dan tidak berubah. Sebagai contoh, jika pada saat dirumah sang wali mengakatan pada calon suami Saya nikahkan anda dengan putriku dan kemudian pindah ke mesjid. Lalu langsung melanjutkan ijab kabul, akad ini bersifat tidak sah. Ijab dan kabul harus dilakukan dalam satu waktu, tidak bisa ditunda.

  2. Dianjurkan Untuk Menyebut Mahar Ketika Akad Nikah
    Pada saat melakukan akad nikah dan ijab qabul pernikahan, dianjurkan untuk menyebut mahar yang diberikan kepada pengantin wanita. Hal ini bertujuan agar mengehindari perselisihan dan fitnah yang mungkin akan terjadi dimasa depan. Akan lebih baik jika mahar tersebut diberikan atau di perlihatkan pada majelis akad. Penyebutan akad nikah pun akan membuat keluarga kedua belah pihak akan semakin tenang. Namun bila pada saat akad tidak disebutkan maharnya, pernikahan tersebut tetaplah sah.

  3. Harus Satu Nafas, atau Boleh Berjeda?
    Untuk masalah penyampaian ijab qabul pernikahan, beberapa ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda. Ulama Hambali dan Hanafi merasa ijab qabul boleh memiliki jeda, selama ijab qabul dilakukan dalam satu majlis yang sama. Namun jika konsentrasi ijab qabul terpisah atau pengantin melakukan aktivitas lain yang mengubah konteks pembiacaraan, akad nikah tersebut akan bersifat tidak sah. Hal ini bersumber dari Kitab fikih 4 madzhab :

    وقد نقل أبو طالب، عن أحمد، في رجل مشى إليه قوم فقالوا له: زوج فلانا. قال: قد زوجته على ألف. فرجعوا إلى الزوج فأخبروه، فقال: قد قبلت. هل يكون هذا نكاحا؟ قال: نعم.

     

    Abu Thalib menukil dari Imam Ahmad, bahwa beliau ditanya, Ada seseorang (si A) yang didatangi sekelompok rekannya. Gerombolan ini mengatakan, ‘Nikahkan si B (dengan putrimu).’ Kemudian si A mengatajan, ‘Aku nikahkan si B dengan putriku, dengan mahar 1000 dirham.’ Kemudian gerombolan inipun segera menyampaikan kepada si B bahwa si A telah menikahkannya dengan putrinya. Lalu si B menjawab, ’Saya terima nikahnya.’ Kemudian Abu Thabil bertanya, ”Apakah akad nikah semacam ini sah?” jawab Imam Ahmad, ”Ya, sah.” (al-Mughni, 7/81)

    Namun, ulama Syafiiyah dan Malikiyah memiliki pendapat berbeda. Mereka merasa ijab qabul harus dilakukan dengan segera  dan tidak boleh ada pemisah. Tapi, jeda ringan tidak sampai dianggap pemisah antara ijab dan qabul. Yang tidak diperbolehkan adalah, ketika antara ijab dan qabul diselingi dengan ucapan apapun yang tidak ada hubungannya dengan acara akad nikah. Pernyataan ini tertuang pada Fikih Sunah, Sayid Sabiq, 2/35 :

    ان فصل بين الايجاب والقبول بخطبة بأن قال الولي: زوجتك، وقال الزوج: بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، قبلت نكاحها، ففيه وجهان: (أحدهما) وهو قول الشيخ أبي حامد الاسفراييني، أنه يصح، لان الخطبة مأمور بها للعقد، فلم تمنع صحته: كالتيمم بين صلاتي الجمع. (والثاني) لا يصح، لانه فصل بين الايجاب والقبول. فلم يصح.

     

    ”Jika antara ijab dan qabul dipisahkan dengan membaca hamdalah dan shalawat, misalnya, seorang wali mengatakan, ’Saya nikahkan kamu.’ Kemudian suami mengucapkan, ‘Bismillah wal hamdu lillah, was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, Saya terima nikahnya.’ Dalam kasus ini ada dua pendapat ulama, (pertama) Nikah sah. Dan ini pendapat Syaikh Abu Hamid al-Isfirayini. Karena bacaan hamdalah dan shalawat disyariatkan ketika akad, sehingga tidak menghalangi keabsahannya. Sebagaimana orang yang melakukan tayamum di sela-sela antara dua shalat yang dijamak. (kedua) tidak sah. Karena dia memisahkan antara ijab dan qabul, sehingga akad nikah tidak sah.”

    Dilihat dari keterangan diatas, tidak ada satupun keterangan yang mengatakan bahwa ijab qabul harus diucapkan dalam satu nafas. Yang harus dilakukan adalah ijab qabul harus dilakukan dalam satu majlis/satu waktu. Dibolehkan ada pemisah ringan seperti jeda napas, selama tidak sampai kelaur dari sikap segera.

    Inti dari ijab kabul sebenarnya adalah pernyataan dari semua pihak yang hadir, mulai dari wali pengantin wanita yang menikahkan putrinya, dan pernyataan kesiapan dari pihak laki-laki untuk menikahi calon istirnya.

Baca Juga : Ini Dia 6 Mitos Pengantin Yang Terkenal Di Seluruh Dunia!

Bagaimana? Sudah jelaskah anda tentang ijab qabul pernikahan yang harus diucapkan dalam satu nafas ini? Dalam keterangan diatas, sudah dijelaskan bahwa ijab qabul boleh memiliki jeda ringan, selama tidak keluar dari konteks akan dan tetap bersifat segera. Untuk yang mengatakan bahwa jika ijab qabul tidak dilakukan dalam satu nafas pernikahannya tidak akan langgeng, hal tersebut hanyalah mitos, bahkan bisa termasuk syirik.

TIdak ada satupun sumber yang mengatakan bahwa ijab qabul yang tidak dilakukan dengan satu nafas atau diulang akan membuat pernikahan tidak akan berlangsung lama. Karena itu, daripada anda memikirkan hal yang tidak penting ini, lebih baik anda/calon suami anda melatih melafalkan ijab kabul dari sekarang, supaya lancar dan tegas.

Leave a Reply